Programmes & Courses / MM-CSR / Regular Seminar / 07

Berkolaborasi untuk Keberlanjutan / 07

Monday, 04 April 2016

Pada tahun 2016 ini dunia menghadapi berbagai risiko yang jika tidak tertangani dengan baik dapat menjadi ancaman secara global. Mulai dari risiko kegagalan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ketidakmampuan menanggulangi krisis air, meningkatnya kerusakan sumber daya alam, berubahnya harga energi secara tiba-tiba, bertambahnya perlombaan sejata, hingga risiko meluasnya konflik regional.

Di antara risiko-risiko yang ada, risiko kegagalan menanggulangi krisis air dikhawatirkan akan menjadi acaman serius jika tidak segera ditangani. “Krisis air berdampak besar pada masyarakat,” tegas YW. Junardy, President of Indonesia Global Compact Network (IGCN). Saat ini saja diperkirakan ada sekitar 750 juta orang di dunia yang kurang memiliki akses ke air bersih. Hal ini mengakibatkan mewabahnya bemacam-macam penyakit di berbagai negara karena masyarakat menggunakan air kotor dalam aktivitas sehari-hari, termasuk untuk kebutuhan makan dan minum.

Risiko-risiko tersebut juga berdampak pada potensi  bertambahnya gelombang pengungsian dari negara konflik ke negara relatif aman, meningkatnya laju penganguran, munculnya krisis keuangan hingga ancaman kerawanan sosial. Demikian dipaparkan oleh Junardy, saat Seminar Reguler yang digelar Program MM-CSR Universitas Trisakti pada 16 Maret 2016.

Menurut Junardy untuk menghadapi risiko dan tantangan global ini maka agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau  Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi penting. SDGs ini berisi 17 tujuan, yaitu menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan, kualitas pendidikan yang baik, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi, akses ke energi yang terjangkau, pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur, mengurangi ketimpangan, pembangunan berkelanjutan, konsumsi dan produksi berkelanjutan, mencegah dampak perubahan iklim, menjaga sumber daya laut, menjaga ekosistem darat, perdamaian dan keadilan, dan revitalisasi kemitraan global. Seluruh tujuan itu diupayakan dapat tercapai dalam periode 2015 hingga 2030.

Pada intinya pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. “Untuk mencapai itu semua perlu adanya partnership antara pemerintah, bisnis, lembaga donor dan masyarakat sipil,” papar Junardy, yang sejak Mei 2015 terpilih menjadi Board of the United Nations Global Compact (UNGC) ini.

UNGC sendiri berpandangan bahwa kalangan bisnis dapat menjadi bagian dalam solusi menghadapi globalisasi. Dalam hal ini kalangan bisnis dapat mendukung dan berkomitmen pada 10 prinsip UNGC. Prinsip-prinsip dalam UNGC ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan dan anti korupsi.

Bagi kalangan bisnis, terdapat sejumlah manfaat  yang dapat diraih dengan melakukan kegiatan yang sejalan dengan UNGC/IGCN dan SDGs. Diantaranya adalah reputasi perusahaan yang baik, menjadi pilihan investasi, meningkatnya produktivitas operasional, mendapat “lisensi sosial”, loyalitas konsumen bertambah, product compliance, mendorong pertumbuhan, dan menjadi perusahaan pilihan.

Namun demikian, menurut Junardy, tantangan global saat ini harus dihadapi bersama. “Mari kita berkolaborasi, melakukan colaborative action, karena kita tidak bisa berjalan sendirian,” ajak Junardy.

 How Social Entrepreneurs make Money How Social Entrepreneurs make Money / 01

Leon Reiner, Founder & Managing Director dari Impact Hub Berlin, Jerman, hadir sebagai pembicara dalam Seminar Reguler yang diselenggarakan MMCSR Usakti dengan tema " How Social Entrepreneurs make Money", pada tanggal 23 Agustus 2017.

Read More
Investasi Sosial yang InovatifInvestasi Sosial yang Inovatif / 02

Agak berbeda dengan sebelumnya, seminar reguler yang digelar MM-CSR Universitas Trisakti di Menara Batavia, Jakarta, pada 3 Desember 2016 ini membahas materi tentang investasi sosial yang inovatif berkaitan dengan pengungsi dan pencari suaka politik. Paparan ini disampaikan oleh Nikola Borosch M. A dari University of Muenster, Jerman.

Read More
Manfaatkan Big DataManfaatkan Big Data / 03

Program MM-CSR Universitas Trisakti menampilkan Francesco Mazzeo Rinaldi dari University of Catania, Italia, pada seminar reguler yang digelar 21 September 2016 di Kampus MM-CSR Universitas Trisakti, Menara Batavia, Jakarta. Francesco adalah ahli di bidang sociobiology, qualitative social research dan quantitative social research.

Read More
Design Thinking for Social InnovationDesign Thinking for Social Innovation / 04

Program MM-CSR Universitas Trisakti kembali menggelar seminar reguler bertempat di Menara Batavia, Jakarta, pada 26 Agustus 2016. Kali Ini Bertema Design Thinking For Social Innovation dengan pembicara Anna Laesser, Co-Founder of Impact Hub Berlin, Jerman.

Read More
CSR dan Hak Asasi ManusiaCSR dan Hak Asasi Manusia / 05

Seminar Reguler yang digelar Program MM-CSR Universitas Trisakti pada 28 April 2016 di Menara Batavia, Jakarta, mendatangkan Radu Mares, seorang pembicara internasional dari Swedia. Ia seorang doktor di bidang hukum dari Fakultas Hukum Universitas Lund, Swedia. Saat ini Mares bekerja sebagai peneliti senior di Raoul Wallenberg Institute of Human Rights, Swedia, dengan spesialisasi di bidang bisnis dan hak asasi manusia (HAM). Mares telah melakukan penelitian-penelitian di bidang CSR dan hak asasi manusia dalam konteks UN Guiding Principles.

Read More
LEADERSHIP IN CRISISLEADERSHIP IN CRISIS / 06

Pada Seminar Reguler 13 April 2016 Program MM-CSR Universitas Trisakti mendatangkan Elia Massa Manik, SEVP (Senior Executive Vice President) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dalam seminar bertema “Leadership in Crisis". Tema yang sangat tepat untuk seminar reguler kali ini. Maklum, Elia Massa Manik telah berpengalaman memimpin banyak perusahaan dalam melewati masa krisis dan membawa perusahaan tersebut menjadi perusahaan besar dan tangguh.

Read More
CSR UNTUK MENCEGAH KORUPSICSR UNTUK MENCEGAH KORUPSI / 08

Suasana Seminar Reguler yang digelar Program MM-CSR Universitas Trisakti malam itu agak berbeda dari sebelumnya. Maklum, tema yang dipilih cukup “panas” untuk saat ini, yakni masalah korupsi. Pembicara pada seminar yang digelar 30 Maret 2016 ini adalah Yuyuk Andriati Iskak, akrab disapa dengan nama Yeye, Pelaksana Harian Kepala Biro Humas Komite Pemberantasan Korupsi (KPK). Sedangkan materi yang dipilih Yeye bertema."Anti Corruption as Part of CSR".

Read More
BERSAMA MEMBANTU SESAMABERSAMA MEMBANTU SESAMA / 09

Istilah crowdfunding di Indonesia baru dikenal beberapa tahun belakangan ini. Walaupun sudah mulai dipraktikan, bagi banyak orang istilah ini mungkin masih sangat asing.

Read More
Sukses CSR Pertamina EP Sukses CSR Pertamina EP / 10

Program MM-CSR Universitas Trisakti kembali menggelar Seminar Reguler CSR di Kampus Menara Batavia, Jakarta, pada 3 Juni 2015. Tampil sebagai pembicara utama pada seminar yang merupakan sharing pengalaman dalam menjalankan CSR ini adalah Public Relation Manager PT Pertamina EP Muhammad Baron, dan Asisstant Manager Field Lirik PT Pertamina EP Ahmad Jabbar. Lebih dari 30 mahasiswa MM-CSR hadir pada seminar ini.

Read More