Resources / Articles / Risiko Bisnis Realestat dan CSR / 09

Risiko Bisnis Realestat dan CSR / 09

Thursday, 20 October 2016, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Oktober 2016

Sebelum membaca artikei ini, harap diingat bahwa : "CSR is NOT the way you distribute profit, but CSR is the vvay you MAKE profit", CSR bukan bagi-bagi laba, tetapi cara perusahaan memperoleh laba dengan benar, yakni melakukan CSR yang tepat.

Bisnis Realestat (kontraktor maupun pengembang) di Indonesia tidaklah mudah, Pengusaha harus berurusan dengan berjibunnya peraturan yang rumit. Belum lagi persoalan operasional bisnis, misalnya yang berkaitan dengan lahan, masyarakat, sumber daya (pendanaan, air, listrik, dan lainnya), konsumen dan lainnya. Semua persoalan yang ada tersebut merupakan isu yang perlu dihadapi dengan hati-hati, profesionalisme, ketekunan dan kesabaran yang tinggi. Isu adalah persoalan yang sedang dihadapi maupun telah dihadapi, sedangkan risiko adalah persoalan yang mungkin terjadi.

Dengan demikian risiko yang akan dihadapi perusahaan Realestat juga sangat besar, terutama yang berkaitan dengan persoalan-persoalan di atas. Oleh sebab itu, penting sekali perusahaan mengidentifikasikan risiko bisnis maupun risiko lainnya. Jika risiko menjadi kenyataan, akan menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Risiko dapat berupa aspek finansial, seperti: pengetatan anggaran pemerintah, tingkat bunga, nilai tukar, inflasi dan lainnya.

Risiko lain adalah dari aspek politik; kondisi ekonomi dunia, seperti: penurunan harga komoditi utama di dunia yang menyebabkan lesunya bisnis sehingga menurunkan kemampuan konsumen membeli properti; persaingan bisnis dari dengan pengusaha Realestat dari negara lain; kemampuan konsumen membayar cicilan rumah, dan lainnya. Selanjutnya perusahaan perlu mengidentifikasikan apa akibat yang akan ditimbulkan dari risiko tersebut di atas terhadap bisnis, dan perkirakan berapa kerugian yang akan diderita jika risiko tersebut menjadi kenyataan (menjadi isu).

Mengurangi Dampak Risiko dengan CSR

Perusahaan dapat mengurangi dampak dari risiko tersebut melalui kegiatan CSR. Mitigasi risiko dapat dilakukan berdasarkan prioritas kerugian bisnis jika risiko menjadi kenyataan. Penanganan risiko dapat diurutkan menurut value chain (SIPOC= Supply, input, Process, Output dan Customer) atau berdasarkan waktu transaksi dengan konsumen, yakni pra transaksi (perusahaan membuat janji-janji kepada konsumen), pada saat transaksi (apakah ada biaya tambahan tanpa pemberitahuan, dan lainnya) dan pasca-transaksi dengan konsumen (apakah semua janji dipenuhi), ataupun berdasarkan hal lain, tergantung kebiasaan perusahaan.

Ruang lingkup CSR yang dapat ditangani di antaranya aspek lingkungan hidup, hak asasi, tenaga kerja,konsumen, praktek bisnis yang adil (tanpa korupsi, kepatuhan hukum) dan pengembangan komunitas. Contoh kegiatan CSR sederhana dapat dilakukan; dengan memperhatikan kondisi ketersediaan air dilingkungan realestat maka perusahaan dapat mengurangi risiko kekurangan air. Misalnya dengan menanam dan memilihara pohon, menggunakan paving block bukan beton agar air terserap, menganjurkan kepada setiap penghuni untuk membuat biopori, memilah sampah dan lainnya.

Dengan menepati janji kepada konsumen dan merespons complaint dari konsumen, dapat meningkatkan reputasi perusahaan, memperoleh banyak konsumen dan mengurangi risiko penurunan penjualan. Menyediakan fasilitas umum yang baik untuk masyarakat sekitar (misal lapangan olah raga), dapat mengurangi risiko protes dari masyarakat. Dengan mematuhi segala aturan atau regulasi, meski rumit, dapat mengurangi risiko tingginya biaya legal atau pengacara. Melakukan kegiatan pengembangan karyawan (training, outbond, dialog, dan lainnya) dapat meningkatkan loyalitas karyawan dan mengurangi tingginya risiko biaya rekrutmen.

Jadi kegiatan CSR harus direncanakan di awal tahun dan disesuaikan dengan identifikasi risiko. Divisi Manajemen Risiko harus dilibatkan dalam merencanakan kegiatan CSR. Jadi CSR menjadi bagian dari biaya operasional bisnis. CSR bukan dilakukan hanya di akhir tahun setelah mendapat laba lalu dibagi-bagi untuk sumbangan, akan tetapi harus dilakukan di awal tahun pada saat penyusunan strategi bisnis. Dengan demikian CSR dapat memberi manfaat bisnis untuk perusahaan.

EXIT STRATEGY UNTUK DAMPAK BERKELANJUTAN / 01— Wednesday, 12 July 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Juli 2017

Suatu program disebut sebagai "Program Exit" adalah jika seluruh kegiatan dalam program tersebut telah selesai dan semua sumberdaya ditarik dari area pelaksanaan program (Rogers dan Macias, 2004). Sedangkan Exit Strategy atau Strategi Exit dari suatu program adalah perencanaan yang dibuat untuk memastikan bahwa meski kegiatan telah berhenti, pencapaian tujuan tidak terganggu dan kelanjutan kegiatan tetap dapat berlangsung, serta dampak positif yang diciptakan bertahan keberlanjutannya. Read More

EVALUASI KEGIATAN CSR / 02— Tuesday, 06 June 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Juni 2017

Banyak perusahaan tidak mempunyai waktu untuk melakukan evaluasi atas kegiatan CSR yang telah dilakukan, oleh sebab itu dalam artikel ini akan diberikan tips singkat tentang bagaimana melakukan evaluasi atas keberhasilan/kegagalan pelaksanaan CSR. Read More

CSR REAKTIF DAN PROAKTIF / 03— Tuesday, 16 May 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Mei 2017

UNTUK DEPARTEMEN YANG MAMPU MENGURANGI ENERGI DENGAN PRESTASI TERBAIK, MAKA SELURUH KARYAWAN DI DEPARTEMEN TERSEBUT MENDAPATKAN BONUS DI AKHIR TAHUN. KARYAWAN JUGA DAPAT DILIBATKAN DALAM KEGIATAN CSR LAINNYA, SEHINGGA SELURUH PIHAK TERLIBAT DAN MEMPUNYAI KOMITMEN. Read More

TIPS SERAHTERIMA PROYEK CSR / 04— Thursday, 20 April 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, April 2017

Banyak perusahaan mempunyai niat baik dengan membuatkan komunitas fasilitas publik, seperti renovasi atau membangunkan sekolah, tempat ibadah, toilet umum, puskesmas, penampungan air, ruang pertemuan, dll. Oleh karena niat baik mereka, maka peru\sahaan berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, sehingga memilih bahan material yang terbaik untuk fasilitas yang dibangun.Tujuan utamanya tentu agar fasilitas awet tahan lama dan tidak mudah rusak. Sehingga peninggalan perusahaan dapat dirasakan dan bermanfaat dalam waktu yang cukup lama. Tentunya setelah proyek selesai, perusahaan ingin segera melakukan serah terima (handover) kepada para penerima manfaat (beneficiaries). Read More

SUSTAINABLE PROJECT MANAGEMENT / 05— Tuesday, 21 March 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Maret 2017

Semua pihak yang bekerja di industri properti pasti familiar dengan peran Manajemen Proyek (Project Management) dan mungkin juga pernah mendengar tentang Green Project Management. Dalam konteks Sustainability (Keberlanjutan), ada konsep Sustainable Project Management. Konsep ini menekankan bahwa manajemen proyek, khususnya bidang konstruksi, dapat turut berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Read More

STRATEGI PELIBATAN Pemangku-Kepentingan / 06— Friday, 20 January 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Januari 2017

Semua perusahaan mempunyai pemangku-kepentingan, baik yang berada di dalam maupun di luar organisasi. Pemangku-kepentingan di dalam perusahaan adalah para karyawan, sedangkan yang di luar terdiri dari para pemasok atau vendor, konsumen, pemerintah daerah dan pusat, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Read More