Resources / Articles / SUSTAINABLE PROJECT MANAGEMENT / 05

SUSTAINABLE PROJECT MANAGEMENT / 05

Tuesday, 21 March 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Maret 2017

Semua pihak yang bekerja di industri properti pasti familiar dengan peran Manajemen Proyek (Project Management) dan mungkin juga pernah mendengar tentang Green Project Management. Dalam konteks Sustainability (Keberlanjutan), ada konsep Sustainable Project Management. Konsep ini menekankan bahwa manajemen proyek, khususnya bidang konstruksi, dapat turut berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Dalam ilmu Manajemen Proyek, ada suatu istilah yang sangat popular yakni "Iron Triangle: Konsep Iron Triangle menyatakan bahwa suatu proyek tergantung pada tiga hal utama, yakni: cost (dana/biaya), time (waktu), dan quality (kualitas). Sayangnya hanya dua hal yang bisa dipenuhi atau dicapai oleh suatu proyek. Artinya, jika perusahaan punya keterbatasan dana dan keterbatasan waktu, maka harus kompromi dengan kualitas. Demikian pula jika perusahaan mempunyai keinginan untuk mencapai kualitas yang tinggi sedangkan waktu yang dimiliki adalah terbatas, maka terpaksa harus mengeluarkan biaya/dana lebih besar agar dapat memenuhi tujuan.

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa komponen cost diubah menjadi "investasi di bidang Keberlanjutan". Ini maksudnya investasi di empat bidang yang berkaitan dengan keberlanjutan, yang disebut dengan Compass Sustainability, yang mencakup: Nature (Lingkungan Hidup), Economy (Ekonomi), Society (Masyarakat), dan Wellbeing (Kesejahteraan Inclividu). Dalam konteks Sustainable Project Management, cost dipandang sebagai investasi, khususnya investasi di bidang keberlanjutan. Sebelum menentukan bentuk investasinya, maka sebaiknya para manajer proyek konstruksi mengidentifikasi terlebih dahulu apa dampak negatif dari kegiatan konstruksinya di keempat bidang Compass Sustainability tersebut.

Misalnya di bidang Nature, kegiatan konstruksi dapat menimbulkan polusi debu, pemotongan pohon, kebisingan suara, limbah konstruksi yang berlimpah, dan lain-lain. Selanjutnya di bidang Economy, mungkin dengan adanya kegiatan konstruksi dapat mengambil alih perkebunan masyarakat, sehingga menimbulkan kehilangan mata-pencaharian bagi masyarakat sekitar, meskipun mereka telah mendapat penggantian atas pembelian tanah oleh perusahaan, akan tetapi mereka kehilangan livelihood yang telah dilakukan turun-temurun. Di bidang Society, misalnya kegiatan konstruksi dapat menimbulkan persoalan sosial misalnya prostitusi, perjudian, kriminalitas, dan sebagainya. Terakhir di bidang Wellbeing, misalnya dengan adanya pengalihan lahan dari perkebunan menjadi konstruksi menyebabkan masyarakat setempat tidak bahagia karena tidak bisa berkebun dan tidak mempunyai lahan untuk bermain ataupun berkumpul.

Setelah perusahaan mengidentifikasi semua efek negatif di keempat aspek Keberlanjutan tersebut, maka perusahaan harus merencanakan kegiatan migitasi efek negatif tersebut. Hal ini perlu ditangani serius sebab jika perusahaan tidak menghiraukan dampak negatif, maka efeknya kepada resiko bisnis, yang dapat berakibat pada terganggunya kelancaran pembangunan/kegiatan konstruksi dan kemungkinan terburuk adalah terhentinya proyek. Penentuan prioritas investasi harus berdasarkan resiko mana yang paling besar dapat menimbulkan gangguan kegiatan proyek. Perusahaan dapat mulai memikirkan bagaimana mengatasi efek negatif di bidang Nature, misalnya mengolah limbah yang dihasilkan dengan me-recycle atau mulai dengan memilah limbah hasil kegiatan konstruksi agar mempunyai nilai ekonomis dan dapat bermanfaat lagi.

Di bidang Economy misalnya mulai menyediakan tempat khusus bagi para peclagang makanan agar dapat menjual makanan untuk para pekerja konstruksi, kemudian mengadakan pelatihan tentang kebersihan dan kesehatan, dalam proses produksi dan penyajian makanan, kepada para pedagang makanan tersebut. Bisa juga perusahaan mengajarkan para penduduk sekitar untuk menyiapkan rumah mereka menjadi tempat 'live-in' bagi pekerja yang berasal dari luar kota. Misalnya tentang kebersihan rumah dan sanitasi. Sehingga keberadaan para pekerja bisa menjadi tambahan pendapatan, karena mereka menjadi punya usaha akomodasi.

Untuk bidang Society misalnya perusahaan memberikan sanksi tegas bagi karyawan yang mengunjungi tempat-tempat kurang terpuji di atas, dan segera melaporkan kepada yang berwajib jika terdapat tanda-tanda kegiatan yang dapat menimbulkan keresahan pada masyarakat. Di bidang Wellbeing, perusahaan bisa menyediakan taman khusus bagi masyarakat sekitar dan mengajarkan para penduduk setempat untuk memelihara taman tersebut secara swakelola dengan cara membentuk Kelompok Pencinta Taman, misalnya.

Seluruh contoh kegiatan mitigasi dampak negatif tersebut merupakan investasi bagi perusahaan, jadi jangan dipandang sebagai biaya. Karena dengan investasi di bidang keberlanjutan, maka perusahaan akan memperoleh 'return'di masa yang akan datang, misalnya berupa dukungan dari masyarakat (social license to operate) sehingga kegiatan proyek dapat berjalan lancar, memenuhi target time (waktu) dan quality (kualitas) yang diharapkan.

EXIT STRATEGY UNTUK DAMPAK BERKELANJUTAN / 01— Wednesday, 12 July 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Juli 2017

Suatu program disebut sebagai "Program Exit" adalah jika seluruh kegiatan dalam program tersebut telah selesai dan semua sumberdaya ditarik dari area pelaksanaan program (Rogers dan Macias, 2004). Sedangkan Exit Strategy atau Strategi Exit dari suatu program adalah perencanaan yang dibuat untuk memastikan bahwa meski kegiatan telah berhenti, pencapaian tujuan tidak terganggu dan kelanjutan kegiatan tetap dapat berlangsung, serta dampak positif yang diciptakan bertahan keberlanjutannya. Read More

EVALUASI KEGIATAN CSR / 02— Tuesday, 06 June 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Juni 2017

Banyak perusahaan tidak mempunyai waktu untuk melakukan evaluasi atas kegiatan CSR yang telah dilakukan, oleh sebab itu dalam artikel ini akan diberikan tips singkat tentang bagaimana melakukan evaluasi atas keberhasilan/kegagalan pelaksanaan CSR. Read More

CSR REAKTIF DAN PROAKTIF / 03— Tuesday, 16 May 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Mei 2017

UNTUK DEPARTEMEN YANG MAMPU MENGURANGI ENERGI DENGAN PRESTASI TERBAIK, MAKA SELURUH KARYAWAN DI DEPARTEMEN TERSEBUT MENDAPATKAN BONUS DI AKHIR TAHUN. KARYAWAN JUGA DAPAT DILIBATKAN DALAM KEGIATAN CSR LAINNYA, SEHINGGA SELURUH PIHAK TERLIBAT DAN MEMPUNYAI KOMITMEN. Read More

TIPS SERAHTERIMA PROYEK CSR / 04— Thursday, 20 April 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, April 2017

Banyak perusahaan mempunyai niat baik dengan membuatkan komunitas fasilitas publik, seperti renovasi atau membangunkan sekolah, tempat ibadah, toilet umum, puskesmas, penampungan air, ruang pertemuan, dll. Oleh karena niat baik mereka, maka peru\sahaan berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, sehingga memilih bahan material yang terbaik untuk fasilitas yang dibangun.Tujuan utamanya tentu agar fasilitas awet tahan lama dan tidak mudah rusak. Sehingga peninggalan perusahaan dapat dirasakan dan bermanfaat dalam waktu yang cukup lama. Tentunya setelah proyek selesai, perusahaan ingin segera melakukan serah terima (handover) kepada para penerima manfaat (beneficiaries). Read More

STRATEGI PELIBATAN Pemangku-Kepentingan / 06— Friday, 20 January 2017, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Januari 2017

Semua perusahaan mempunyai pemangku-kepentingan, baik yang berada di dalam maupun di luar organisasi. Pemangku-kepentingan di dalam perusahaan adalah para karyawan, sedangkan yang di luar terdiri dari para pemasok atau vendor, konsumen, pemerintah daerah dan pusat, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Read More

RISIKO BISNIS DAN CSR INDUSTRI KONSTRUKSI / 07— Tuesday, 20 December 2016, Dr. Maria R. Nindita Radyati - Majalah Real Estate Indonesia, Desember 2016

Pemahaman yang salah tentang CSR bahwa CSR hanya ditujukan untuk pihak luar perusahaan dan hanya berupa donasi atau bantuan kedermawanan lainnya harus segera diubah menjadi yang benar. Read More